Kelompok Tenun Bagonse Desa Kubang Tangah
Manusia merupakan makhluk sosial, karenanya manusia selalu yang
membutuhkan orang lain dan tidak pernah lepas hubungannya dengan orang lain. Hubungan
ini membutuhkan interaksi, interaksi yang semakin lama semakin berkembang antara
individu, selanjutnya membentuk kelompok yang di dasari atas kepentingan yang
sama.
Dewasa ini, keberadaan kelompok atau komunitas di tengah-tengah
masyarakat memang sangat penting. Kelompok disebut juga sebagai penyeimbang dan
penyempurna struktur yang ada dalam masyarakat. Kelompok biasanya terbentuk atas kepentingan yang sama dan memiliki
hubungan yang erat antar anggota sehingga timbul perasaan bersama antar anggota
kelompok.
Di kota Sawahlunto, tepatnya di Desa Kubang Tangah terdapat suatu
kelompok yang berpusat pada kegiatan yang sama yaitu bertenun. Kelompok ini
bernama “BAGONSE” yang merupakan singkatan dari “Batu Nan Godang dan sekitarnya”.
Pengambilan nama ini didasarkan dari nama dusun tempat pera pengerajin songket
tinggal atau berasal.
Pada awalnya para pengerajin songket di Desa Kubang tangah hanya memproduksi songket sendiri-sendiri atau belum ada kelompoknya. Lalu pada 1 September 2016 di bentuk kelompok pengerajin songket yang mana pada awal terbentuknya masih beranggotakan 15 orang. Sejak awal berdirinya kelompok bagonse ini aktif pada banyak kegiatan seperti pameran, parade busana pada saat ulang tahun kota, dan lain sebagainya.
Kelompok tenun bagonse saat ini mengalami penambahan jumlah anggota yang
mana pada awalnya hanya beranggotakan 15 orang sekarang bertambah menjadi 21
orang dan tidak ada anggota yang keluar dari kelompok. Pertambahan dan
peningkatan ini tidak lepas dari peran setiap anggota untuk terus belajar bersama-sama
dan terus meningkatkan kualita dan ciri khas dari songket Desa Kubang Tangah
itu sendiri.




0 komentar